tantang negara ku

4 06 2008

Banyak orang bigung kala bbm naik. Takuht harga kebutuhan pada naik lah, hidup bakalan makin susah lah, makin banyak penganguran dan orang miskin lah. Lalu pada berbondng bonding menyalahkan , pemerintah. Tuntut ini, tuntut itu. Pemerintah hanya bisa korupsi, turunkan presidenya. Bahkan ada mantan presiden yang berkomentar presiden ini sudah tidak layak. (dari saya pribadi ini hanyalah cara kurang pintar untuk berkampanye dan menjatuhkan lawan politik.saya yakin dia akan bertindak sama dan mungkin lebih tidak resional lagi disbanding presiden yang sekarang apabia menjabat di tahun yang sama).

Untuk mengantisipasi gejolak yang akan timbul. Pemerintah memberikan fakta bahwa Harga minyak dunia memang menalami kenaikan yang sangat tajam di luar perkiraan. Pemerintah mencoba mengajak rakyat untuk berpikir. Mengajak mereka untuk berunding. Mereka berfikir. Tapi apa yang di tuntut oleh rakyat setelah mereka berfikir?

>ambil alih asset asset minyak Negara!!!!<

Kata kata itu seolah olah bukan terdengar sebagai tuntutan bagi saya. kata kata itu lebih terdengar sebagai kata kata putus asa yang dilontarkan mahasiswa. “daripada tidak menuntut apa apa”. Mungkin itu yang ada di benak para pendemo. Mehasisa adalah orang yang terepelajar,. Mereka tahu bahwa mengambil alih asset Negara tidak bisa dilakukan begitu saja. Negara terikat perjanjian. Memang itu semua terjadi karena tindakan koruptor bodoh yang menjual asset Negara kita kepada Negara lain.

Saya yakin mahasiswa bisa berfikir. Sehingga di saat mereka demo, mereka menjadi tidak punya tujuan. Kenaikan harga minyak dunia tidak bisa dihindari. Jadi apa yang harus mereka tuntut? Bingung lah mereka. Sehingga demo yang tidak jelas juntrungannya itu pun menjadi hambar. Mereak menuntut suaranya didengarkan. Padahal semua orang tahu. Didengarkan pun pasti juga tdak berakibat banyak. “turunkan SBY JK”. Apakah mereka tidak berfikir. Bukan presiden yang membuat harga minyak dunia naik. Seharusnya mereka malu menuntut diturunkan kembali harga BBM. Akirnya yang terjadi adalah.polisi melarang mahasiswa sampai ke tempat tertentu. Ada adu mulut. Lalu salah satu mahasiswa yang tidak bertanggung jawab melempar batu. Disusul dengan yang lain. Dan timbulah satu pertempuran antara mahasiwa dengan aparat.

Siapa yang harus di salahkan ketika terjadi bentrok seperti itu? Apakah polisi sebagai pengayom dan pelinung masyarakat bisa disalahkan? Polisi di sana melakukan tugas mereka. Mereka di situ bukan demi turunya harga BBM yang tidak mungkin terjadi. Mereka di situ untuk mencari makan . apabila mereka tidak menuruti erkataan komandanya. Munkin mereka bisa diturunan atau di pecat. Mahasiswa .. apa yang anda lakukan apabila anda di posisi sebagai poliisi? Itu yang tidak kalian pikirkan. Mereka juga mungkin setuju akan turunya harga BBM. Mereka bahkan punya akan dan istri yang hars dihidupi. Di sisini disayangkan dikap mahasiswa yang tak mau tahu. Jika mereka ingin tuntutan mereka tersuarakan, ambilah jalan lain. Saya pun yakin ada diantara mahasiswa yangf penjadi provokator dalam “acara” benrok dengan polisi itu. Inilah yang dinamakan orang tidak bertangung jawab. Meraka melempar batu. Berteriak serbu. Lalu lari ke belakang menunggu.

Tapi ini semua juga bukan semata mata kesalahan mahasiswa. Polisi sebagai pelindung juga mengambil sikap yang salah. Untuk member pelajaran mereka harusnya tidak mengambil cara yang bersifat melukai. Mahasiswa yang ada di dekat mereka di keroyok. Di pukli dengan pentungan mereka. Di seret di mapolsek, seolah olah dia adalah pembunuh yang pantas di perlakukan seperti itu. Itu tidak benar. Tindakan seperti itu tidak memberikan efek jera bagi masyarakat terutama mahasiswa. Apalagi mahasiswa. Jiwa muda yang yang berapi apii. Melihat seperti itu akan semakin panas. Lupalah mereka pada tujuan awal. “menyuarakan aspirasi nya”.

Ee’ yang lebih miris lagi bentrok sudah selesai. Ee lha polisi malah nyamperin kampus yang di sana adalah tempat orang menuntut ilmu. Tempat yang membuat bangsa kita cerdas. Tempat di mana para mentrii itu belajar. KO ya di serbu. Nyariin mahasiwa. Ada mahasiswa di gebukin. Bangsat nya polisi mulai kelihatan lagi. Apa alas an mereka? “polisi menyerbu untuk mencari pelaku provokasi” dan lain lain yang secara nalar tidak masuk akal. Serbuan polisi ke kampus itu saya yakin bukan bagian dari tugas. Tapi tindakan semena2 dari aparat yang membawa senjata yang tidak terima kejadian sebelumnya. Sungguh miris kertika orang yang semena mena itu sebenarnya di latih untuk melindingi masnyarakat.

Sudah ya sudah. Polisi jangan menjadi pendendam. Saya tahu. Polisi juga manusia. Tapi ketika anda membawa seragam dan senjata. Kalian bukan manusia biasa. Kalian adalah manusia pelindung. Senjata kalian bisa mebunuh. Tapi tidak digunakan untuk mengebuki mahasiswa. Kalian bawa senjata untuk menunjukan kewibawaan. Profesionalitas polisi dipertanyakan. Hanya karena dendam yang tidak perlu. Harus menyerbukampus yang seharusnya dilindungi. Miris.

Yuuk kita mulai dari diri sendiri. Segala emosi yang sebenarnya tidak perlu mari kita simpan. Jika ingin menyuarakan pendapat, mari dengan jalan yang benar, tidak harus bentrok, karena kalo bentrok yang di liput bentroknya, tuntutanya hanya menjadi sebuah hiasan.

Polisi juga mari kita berbenah diri bersama. Kalian membawa hal yang berbahaya. Kalian di beri beban yang tidak ringan. Menjadi menusia yang tidak biasa memeng tidak mudah. Yukk, kita perbaiki nama polisi yang sudah bobrok ini dengan prestasi. Agar apa yang di dapat olaeh plisi dari masyarakat bukan sebuah cacian, melainkan pujian. Agar polisi dapat mejadi cntoh bagi masyarakat.  


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar